Jangan Kira Indonesia tak Pernah Wakili Piala Dunia. Ini Buktinya!

Share
Jack Taylor

Jack Taylor

Animoku – Indonesia patut merasa bersyukur karena pernah menjadi kampiun pada perhelatan Piala Asia 2014 lalu. Evan Dimas adalah salahsatu pahlawan paling diingat kala itu, melalui hatrrick-nya saat menyudahi perlawanan Korea Selatan dengan skor 3 – 2. Namun sayang, tren positif tidak berlanjut berikutnya. Nama Evan Dimas kini seakan tenggelam dan tidak diketahui pasti apakah mengalami peningkatan performa atau tidak. Cita – cita Garuda untuk melangkah lebih tinggi pun terasa seperti Ilusi. Satu mimpi terbesar yang belum terwujud hingga kini, yakni tampil di ajang paling bergengsi; Piala Dunia.

Hanya 32 negara terbaik yang berhasil lolos seleksi mewakili benua masing – masing. Kesempatan perwakilan Asia Tenggara menghadapi jalan terjal lantaran harus berhadapan dengan negara – negara Arab, Australia, Korea, dan Jepang, selaku juara bertahan.

Animoku yakin, Sobat Nimo sekalian sangat menginginkan Timnas Indonesia menjejaki event paling bergengsi tersebut. Namun kalian tidak perlu khawatir, meskipun belum berhasil lolos ke Piala Dunia, kita boleh berbangga dan berterima kasih kepada mendiang wasit Jack Taylor.

Mengapa?

Final Piala Dunia 1974 silam, mempertemukan tim tuan rumah Jerman (Barat) kontra Belanda dihiasi momen tak terlupakan, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Kala itu, wasit Jack Taylor asal Inggris bertugas memimpin jalannya laga menggunakan koin asli buatan Indonesia untuk menentukan kesebelasan mana yang memperoleh bola pada awal kick off pertandingan. Dirinya beralasan, koin pecahan Rp2.000 ini memiliki gambar menarik di kedua sisinya dan beratnya yang ideal. Dengan bobot 25,31 gram, sisi depan bergambar Garuda berikut teks Bank Indonesia dan gambar Macan Jawa di sisi belakang.

Merasa penasaran, Sang Legenda Kapten Jerman Franz Anton Beckenbauer menghampiri Taylor untuk melihat bentuk koin Indonesia yang dicetak perusahaan asal Inggris Royal Mint. Pemain berjuluk Der Kaiser lalu bertanya – tanya mengapa Taylor tidak menggunakan koin asal negaranya saja, yang kemudian hanya dijawab dengan senyum.

Koin edisi terbatas itu dipasarkan untuk para kolektor dan dilelang dengan harga yang tinggi. Pada 2006, koin bersejarah tersebut dilelang dengan harga mencapai Rp150 juta dan kabarnya dibeli oleh seorang pengusaha di Inggris. Sementara Jack Taylor mendapatkannya secara gratis, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya sebagai wasit profesional.

Selain itu, Jerman Barat barangkali boleh berterima kasih kepada koin itu, kendati tidak ada hubungannya sama sekali, Tim mereka keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan Belanda dengan skor 2-1.

Koin khusus yang dibuat BI bekerja sama dengan lembaga konservasi dunia (IUCN) serta Lembaga Konservasi Alam (WWF) telah berhasil mencetak sejarah, dan turut mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Sekarang tinggal Tim Nasional kita ya Sobat, semoga dapat mengukir prestasi lebih tinggi lagi.

Sayangnya, Jack Taylor telah meninggal dunia pada usia 82 tahun di kediamannya di Shropshire pada Jumat 27 Juli 2012. Koin Indonesia terkenang selamanya berkat jasa Sang Pengadil Lapangan.

Damai di Surga, Sir!

Dany Putra

Intuiting Introvert. Copy Writer. Winning Eleven Maniac era 99 - 2000-an. Menggemari Claudio Lopez & Fernando Torres.

Spesial untukmu...