Karir Egy di Eropa, Belajar dari Kegagalan Pendahulunya

Share
EMV

Egy Maulana Vikri (kiri)

Animoku – Sobat Nimo, Indonesia selayaknya berbangga karena sejumah anak negeri berhasil menorehkan prestasi gemilang di pentas dunia. Setelah sebelumnya salah seorang legenda sepakbola tanah air, juga pernah menjejak rumput di Eropa bersama Sampdoria. Kurniawan Dwi Yulianto adalah contoh terbaik anak-anak muda berbakat sebagai inspirasi mereka, bahwa bukan tidak mungkin selama impian dan tekad keras itu masih ada.

Pertarungan sesungguhnya pun dimulai! Dan inilah Animoku Story, Mampukah prestasi pemain belia tersebut melewati para pendahulunya? Atau malah biasa – biasa saja?

Menjejaki budaya luar yang jauh berbeda, disamping tantangan iklim dan bahasa, seorang Egy Maulana Vikri harus merelakan berpisah dengan rumah kelahirannya, Medan, untuk menuju Lechia Gdansk, klub kasta pertama di Liga Polandia.

Dikenal menjalin hubungan akrab dengan Witan Sulaiman, keduanya sempat menempa pendidikan mengolah si kulit bundar di Ragunan, Jakarta. Egy sedikit lebih beruntung karena prestasinya mampu menarik minat pencari bakat luar negeri, dan membawanya menuju tantangan baru, mewujudkan mimpi.

Barangkali Sobat bertanya – tanya, lantaran tidak banyak yang tahu soal sepakbola Polandia. Nama Lechia Gdansk pun seakan terasa janggal di telinga. Sejak kehadiran pemain kidal inilah, media internasional mulai menyoroti isu-isu seputar pertandingan di negara yang bertetangga dengan Jerman tersebut. 

Musim 2018 – 2019 misalnya, adalah kali pertama pemain 19 tahun ini memulai debut perdananya bersama Tim Utama. Egy hanya mendapatkan dua kali kesempatan bermain yang keseluruhannya diperoleh dari bangku cadangan. Performa yang sedikit membuat talenta Indonesia kesulitan mengembangkan permainan, bahkan menciptakan gol.

Tidak pernah menjadi starter memicu semangat EMV untuk terus meningkatkan kemampuannya. Alhasil, di musim ini, dirinya mendapatkan kesempatan bermain sejak awal, meski digantikan oleh rekannya di babak kedua.

Dilansir laman Lechia Gdansk, sang juru taktik Piotr Stokowiec mengatakan, beberapa pemain memerlukan waktu berlaga mengingat timnya akan menjalani kompetisi panjang.

Meskipun sempat mengalahkan Bronby, klub asal Denmark dengan skor tipis 2 –  1 belum lama ini, saat Egy diturunkan melawan Wisla Krakow menorehkan hasil imbang tanpa gol. Liga Ekstralaksa yang baru berjalan dua pekan ini menyeret Lechia ke posisi 10 klasemen sementara.

Tak berhenti ujian buat Egy, pada pertandingan tersebut diwarnai aksi pemukulan oleh Bek lawan terhadap dirinya, hingga terpaksa menjalani perawatan cukup intensif. Defender Maciej Sadlok marah saat dilewati Egy menggunakan teknik nutmeg alias ngolong.

Performa pesepakbola 19 tahun ini juga mendapat pujian dari pelatih Lechia Gdansk, “Saya tidak ingin terlalu cepat memberikan penilaian terhadap performa dia. Namun dia punya skill ‘tipuan’ yang bagus, dan memberikan kontribusi,” ucap Stokowiec seperti dikutip dari Sportowe Fakty. Tak hanya menjadi bagian starter eleven Lechia di Liga Utama Polandia, pelatih memasukkan nama Egy ke daftar skuad Lechia Gdansk untuk kualifikasi Liga Europa. Hmm… Legendary!!!

Terlepas dari banyaknya pujian buat Egy, Kurniawan Dwi Yulianto telah lebih dulu digadang-dagang bakal menjadi bintang Indonesia yang bersinar di Eropa. Di usianya yang masih terbilang belia waktu itu, yakni 17 tahun. Kurniawan “Si Kurus” dimasukkan ke dalam anggota tim muda Sampdoria Primavera (Proyek kerja sama PSSI dan Italia). Sebuah peluang emas bagi Kurniawan untuk menimba banyak pengalaman.

Perjalanan seakan berlangsung mulus. Buktinya adalah Turnamen Mantova 1994, ia berhasil menyandang predikat pemain terbaik. Pelatih Sampdoria saat itu, Sven-Goran Eriksson, tak ragu memberikan puja-puji.

Penampilan Kurniawan sempat membuat decak kagum banyak pihak. Kala itu, Sampdoria tengah melakukan uji tanding melawan Sestri Levante. Gol spektakulernya dari jarak 40 meter terdengar seperti angin segar bagi masa depannya. Namun nahas, dirinya bermasalah dengan PSSI, sehingga Pemain Timnas legendaris tersebut terpaksa harus angkat kaki dari Sampdoria.

Tak patah arang, Kurniawan kemudian memutuskan merumput di FC Luzern, klub Swiss tahun 1994-1995. Dikutip transfermarkt.com, ia total bermain 988 menit dari 25 laga dan mencetak 3 gol. Satu gol perdana yang akan selalu dikenang, ia lesakkan ke gawang raksasa FC Basel dan menjadikan sebagai pesepak bola Indonesia pertama yang mencetak gol di kompetisi resmi Eropa.

Sayangnya, kecemerlangan pencapaian itu tidak berlanjut kemudian. Di Musim berikutnya aturan pemain Non-Eropa diberlakukan, Kurinawan kesulitan mendapat tempat dan ia pun memutuskan kembali ke Tanah Air bermain untuk Pelita Jaya.

Apakah Sobat tahu, dimana Kurniawan menjelang akhir karirnya? Mantan pemain timnas bernomor punggung 10 itu pernah berkostum Persipon Pontianak tahun 2013 lalu.

Tidak ada sumber resmi yang mencatat berapa jumlah caps pemain yang kini berusia 43 tahun saat berkostum Persipon. Namun di tahun sebelumnya, ia memperkuat PPSM Kartika Nusantara dengan 4 penampilan dan 2 gol.  

Selain nama Kurniawan dan Egy, pemuda asal Surabaya menapaki karirnya di Eropa bersama Tim B Espanyol. Walau tak sebesar dan sehebat prestasi keduanya, Arthur Irawan tampak begitu menjanjikan karirnya di level Junior. Memulai karir di sekolah sepak bola Manchester United, lalu berlanjut ke Lytham Town (tim amatir Liga Inggris) hingga tahun 2011, Arthur dikontrak Espanyol B di bawah arahan Mauricio Pochettino (kini pelatih Tottenham Hotspur), dan pernah menjadi rekan setim Eric Bailly (kini di Manchester United).

Melihat Klub yang dibelanya, seperti terlihat bahwa Arthur akan mencapai puncak karir melebihi pemain Indonesia lain yang mengadu nasib di Eropa. Hal ini terbilang cukup realistis mengingat Espanyol B merupakan klub kasta kedua La Liga. Ia pun berpeluang mengisi tim inti dari bangku cadangan. Sayangnya, Arthur  tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. ‘Hanya’  22 penampilan, hingga ia dilego ke tim B Malaga di awal tahun 2014.

Di Malaga, performa pemuda bernama lengkap Arthur Daniel Irawan ini justru memburuk.  Tampil 6 kali tanpa gol.  Kemudian ia dijual ke Waasland Beveren klub Belgia pertengahan tahun 2014.

Secercah harapan muncul karena Beveren merupakan klub kompetisi kasta tertinggi Liga Belgia. Tapi, ternyata karirnya malah semakin anjlok, dengan tampil cuma sekali selama dua musim di negara tetangga Belanda itu. Praktis karirnya di Eropa berakhir dan ia kembali ke tanah air dan mengisi skuat Persija Jakarta. Lantas apa yang terjadi?

Ibarat bertepuk sebelah tangan, pengalamannya bermain di kancah Internasional tidak membantunya mendapatkan posisi pemain reguler di tim berjuluk Macan Kemayoran. Setelah tampil melawan mantan timnya, Espanyol, pada laga uji coba, Juli 2017 lalu, Arthur baru sekali menjalani pertandingan di Liga 1 saat Persija menang atas Bhayangkara FC. Malangnya, ia masuk sebagai pemain pengganti, Novri Setiawan waktu itu di 2 menit jelang wasit meniup peluit panjang.

Ironisnya kisah Arthur Irawan seakan berlanjut pada diri Alfin Tuasalamony yang membela Arema FC di perhelatan Liga 1. Diketahui Alfin pernah bermain selama dua musim di Belgia bersama CS Vise. Pemain yang berposisi sebagai bek kanan dinilai cukup konsisten dalam 51 kali bertanding dan mencetak 1 gol. Meski demikian, Alfin di tahun 2013 memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berseragam Persebaya Surabaya, sebagaimana dilansir indosport.

Pada akhirnya, baik Kurniawan, Arthur, maupun Alfin, adalah contoh yang kurang baik bagi Egy Maulana Vikri. Meski telah meraih 2 medali di Liga Polandia, Egy tak boleh lekas berpuas diri. Jam terbang yang masih sangat terbatas adalah tantangan utama ke depan. Hal ini penting, karena banyaknya waktu bermain dan torehan gol sangat menentukan perkembangan karirnya, dan tentu saja buat Timnas Garuda di waktu mendatang.

Well…

Setujukah Sobat Nimo semua?

Liga Ekstralaksa

Klasemen Liga Ekstralaksa

Dany Putra

Intuiting Introvert. Copy Writer. Winning Eleven Maniac era 99 - 2000-an. Menggemari Claudio Lopez & Fernando Torres.

Spesial untukmu...