Mengenang Lev Yashin, Kiper Miskin Paling Terkenal Sepanjang Sejarah Sepakbola

Share
lev yashin

Lev Yashin

Animoku – Sobat Nimo, menurut kalian siapa penjaga gawang paling gemilang sepanjang masa? Jika mata kalian tertuju kepada Gianluigi Buffon, maka sangat tepat. Karir cemerlangnya bersama Juventus membuat ex kiper Timnas Italia tersebut sulit untuk dilupakan, meskipun di penghujung karirnya gagal membawa negeri pisa lolos Piala Dunia 2018 lalu.

Seperti yang diberitakan bolasport.com, pemain berusia 41 tahun itu memiliki gaji 4,92 Euro per tahun. Di usianya yang terbilang uzur bagi atlet sepakbola, Buffon masih menikmati puncak kejayaannya dan kini merumput di Paris Saint Germain.

Gigi berhak bangga atas segala raihan baik berupa prestasi klub, timnas, ketenaran, maupun harta kekayaan. Namun jika kita mundur ke belakang, terdapat Algojo hebat penjaga mistar gawang yang nyaris tak dapat ditandingi sampai kapanpun. Dialah si pria jangkung, Lev Yashin (1929 – 1990).

Kalian tentu paham dalam dunia sepakbola, biasanya pemain berposisi penyerang menerima penghargaan paling banyak, tetapi Yashin berhasil membantah teori ini. Perolehan Ballon d’Or pada 1963 merupakan bukti nyata prestasinya tidak bisa dianggap main – main. Bahkan raihan tersebut hanya ia satu-satunya kiper berhasil mendapatkan penghargaan bergensi ini. Namanya harum dan tercatat sebagai penjaga gawang terbaik abad ke-20. Selama karirnya, Yashin hanya bermain untuk Dynamo Moscow.

Dengan segala prestasinya, Lev Yashin ternyata berlatar belakang keluarga miskin. Lahir di keluarga seorang tukang kunci Moskow pada 1929, kala itu ia baru berusia 11 tahun ketika perang dengan Jerman dimulai, ia terpaksa menghabiskan masa kanak –kanaknya menjadi pekerja pembongkar kereta di Ulyanovsk dan kemudian mengikuti jejak ayahnya sebagai tukang kunci. Setelah namanya mulai bersinar, Yashin masih menganggap dirinya sebagai seorang pekerja.

“Saya harus menyentuh bola sebelum pertandingan, sama dengan seorang tukang kayu yang menyentuh papan sebelum mulai bekerja. Ini adalah kebiasaan para pekerja,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Seperti atlet Soviet kebanyakan, gajinya tidak besar sebagaimana rekan-rekannya di Eropa, apalagi menyamai Gianluigi Buffon. Suatu ketika Yashin pernah pergi ke restoran bersama Ferenc Puskás, bintang asal Hongaria yang memperkuat Real Madrid. Yashin sangat terkejut melihat Puskás mengeluarkan dompetnya untuk membayar tagihan.

“Saya belum pernah melihat uang yang begitu banyak dalam hidup saya, apalagi menggunakannya.”

Kesederhanaan membuatnya semakin populer. Dan dibalik itu semua, Yashin terkenal karena keterampilan akrobatik, reaksi, serta mengubah pola permainan kiper, karena diakui dia adalah kiper yang aktif menekel musuh dan keluar kotak penalti pertama, menyebabkan namanya kian melambung pada 1950-an, dan digelari “pemain sirkus” karena hal ini.

Skill ini mengantarkan penampilannya dengan 160 clean sheet dari 326 pertandingan domestiknya bersama Dynamo Moscow, dan membawa tim nasional Soviet memenangkan Olimpiade di Melbourne, Australia tahun 1956.

Selain permainannya yang energik dan menghibur, Yashin selalu mengenakan seragam berwarna gelap dari kepala hingga ujung kaki, sampai – sampai dijuluki “Laba-Laba Hitam” oleh sebab kelenturan dan keterampilan akrobatiknya. Saat bertanding, ia juga selalu mengenakan topi yang diyakininya sebagai jimat keberuntungan.

Lev Yashin dikenal karena kehebatan dan kesederhanaannya. Disisi lain, didapati ia memiliki sejumlah kekurangan, terutama dari pola hidupnya yang tidak teratur. Kecanduan akan rokok perlahan mengganggu kesehatannya hingga kakinya diamputasi karena kerusakan arteri pada 1984. Enam tahun kemudian, dia meninggal.

Tak ada manusia yang sempurna ya Sobat Nimo. Biar bagaimana pun, nama Lev Yashin tetap dikenang sepanjang sejarah sepakbola sebagai pria “miskin” namun memiliki segudang prestasi. Kalau menurut kalian gimana nih, ada nggak penjaga gawang jaman now yang bisa menyamai kehebatannya?

 

Dany Putra

Intuiting Introvert. Copy Writer. Winning Eleven Maniac era 99 - 2000-an. Menggemari Claudio Lopez & Fernando Torres.

Spesial untukmu...