Primavera, Di Mana Para Pemain Bintang Indonesia Lahir

Share

Halo Sobat Nimo!

PSSI Primavera (Source: IDN Times)

Kalian masih ingat tidak, dengan salah satu pembahasan kita mengenai program Garuda Select yang beberapa waktu yang lalu, sudah pernah kita bahas? Nah ternyata, program PSSI yang seperti ini bukan kali pertama diselenggarakan, lho! Sebelumnya, para pesepak bola Indonesia rupanya pernah mendapatkan pelatihan sepak bola di luar negeri.

Baretti (Source: IDN Times)

Jauh sebelum progam Garuda Select diselenggarakan, PSSI pernah menyelenggarakan program sejenis di tahun 1993-1995. Dalam program ini, terdapat dua kategori sub program, yakni Primavera dan Baretti. Program Primavera diperuntukkan bagi pesepak bola berusia 19 tahun, sedangkan program Baretti diperuntukkan bagi pesepak bola berusia 16 tahun. Program pelatihan Primavera-Baretti ini digelar di Sampdoria, Italia.

Program yang satu ini memiliki target yang terbilang ambisius saat itu, yakni lolos ke Olimpiade Atlanta tahun 1996. Dilansir football-tribe.com, program ini menghabiskan biaya sebesar Rp 12 Miliar, untuk memberangkatkan 20 Garuda Muda.

Primavera Italia (Source: Wikipedia)

Selain berlatih mengenai taktik, mengasah fisik, dan belajar menjaga pola makan, para pemain muda Indonesia ini juga diperbolehkan untuk mengikuti kompetisi Primavera Italia musim 1993/1994. Primavera Italia adalah sebuah kompetisi sepak bola untuk pemain muda berusia di bawah 20 tahun, yang diikuti oleh klub-klub besar di Italia.

Meski gagal memenuhi target untuk lolos ke Olimpiade Atlanta, program ini berhasil melahirkan nama-nama besar pesepak bola tanah air, seperti Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Supriono, hingga Yeyen Tumina. Nama-nama tersebutlah yang di kemudian hari menjadi sosok-sosok yang memperkuat skuad Timnas Indonesia dan mejadi pesepak bola yang melegenda.

Dwi Yulianto (Source: Kumparan)

Nasib baik dimiliki oleh dua pesepak bola bintang tersebut, yaitu Dwi Yulianto dan Kurnia Sandy. Keduanya mendapat panggilan dari klub Sampdoria. Meski kesulitan menembus skuad utama, tetapi pengalaman berlatih dan atmosfer kompetisi sepak bola Eropa berhasil mereka dapatkan. Dwi Yulianto sempat bermain dalam beberapa laga ketika dipinjamkan ke klub Swiss, FC Luzern, sedangkan Kurnia Sandy masih tetap berada di Sampdoria. Hal itu dilakukan sebelum keduanya akhirnya kembali ke Indonesia untuk membela Pelita Jaya.

Bima Sakti yang saat ini menjadi pelatih timnas muda, pernah mencoba mengadu nasib ke Swedia setelah selesai mengikuti Program Primavera. Ia sempat bermain dengan klub Helsinborg IF pada musim 1995/1996. Namun karena kurangnya menit bermain, Bima Sakti memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan bergabung dengan kedua rekannya di klub Pelita Jaya.

Bima Sakti (Source: Pojok Satu)

Setelah program Primavera selesai, Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, serta Bima Sakti membela timnas bersama-sama. Prestasi Indonesia pun menjadi cukup baik. Dalam ajang Piala Tiger (kini Piala AFF), nama Indonesia selalu muncul di peringkat 4 besar. Pada tahun 1996, Indonesia berada di peringkat 4. Di tahun 1998, Indonesia ada di peringkat 3. Indonesia pun pernah menjadi runner up di tahun 2000, 2002, dan 2004.

Jadi, itulah program Primavera yang berhasil melahirkan para pemain sepak bola hebat Indonesia. Program ini juga melahirkan sosok pelatih hebat lho, Sobat Nimo! Lihat saja Bima Sakti, yang namanya kini tengah diperbincangkan karena deretan prestasinya saat melatih skuad Garuda Muda.

Spesial untukmu...